Rumah Kecil, Menikmati Suasana Pedesaan di Perkotaan

Mencari tempat nongkrong di Makassar tidak terlalu sulit. Apalagi saat ini sudah banyak kafe dan warkop yang tersebar di tengah-tengah maupun sudut-sudut kota. Selanjutnya tinggal pilih mau tempat nongkrong seperti apa. Namun jika ingin merasakan sensasi nongkrong ala pedesaan, datanglah ke Rumah Kecil.

Rumah Kecil merupakan tempat untuk bersantai yang terletak di Pannara Antang, tidak jauh dari keramaian kota Makassar. Konsepnya memang unik, menawarkan nuansa pedesaan di perkotaan dengan adanya persawahan hijau di sekelilingnya, pemandangan yang indah dan udara yang sejuk. Selain itu, terdapat kolam ikan air tawar, kolam ikan untuk terapi, beberapa kandang ayam, angsa dan burung, berbagai macam tanaman dan ornamen-ornamen yang bisa membuat pengunjung betah berlama-lama di sini. Disebut rumah kecil karena di tempat ini rumah pemiliknya memang berukuran kecil, hanya sebuah kamar dengan dapur serta teras. Namun halamanya sangat luas. Di sinilah tempat nongkrong para seniman dari Sanggar Merah Putih.

rumah kecil 5

Rumah Kecil, tempat nongkrong yang dikeliling persawahan

Tempat ini awalnya memang hanya diperuntukkan untuk teman-teman seniman saja. Namun dari saran teman-teman yang sering nongkrong tersebut, Haswadi Haruna atau Adi Doang -sang pemilik tempat- dan istri pun sepakat untuk menyediakan makanan/minuman dan menjualnya untuk teman-teman yang sering datang. Mengingat selama ini teman-teman seniman sering mencari makan di luar. Setelah menjual makanan/minuman, tempat ini pun akhirnya dibuka untuk umum kurang lebih sebulan yang lalu.

Walaupun berada tidak jauh dari keramaian kota Makassar, untuk menemukan tempatnya memerlukan cukup perjuangan. Kalau istilah dari Adi Doang, seperti mendaki gunung, melalui perjalanan yang panjang dan penuh liku baru bisa sampai di puncaknya. Jika baru pertama kali ke sana, memang cukup sulit menemukannya, walaupun sudah ada beberapa penanda yang terpasang. Jadi, selain dengan bantuan penanda tersebut juga pakai GPS (gunakan pendudukan setempat). Ini karena tempatnya tersembunyi, terletak di belakang rumah warga, melewati lorong sempit yang berbelok-belok. Akses ke lokasi hanya bisa dilalui sepeda motor, itupun hanya sampai di depan lorong masuk. Untuk pengguna kendaraan roda empat, sebaiknya memarkir kendaraan di sekitar Mesjid An-Nur (di seberang minimarket di Jl. Raya Baruga) atau di sekitar Mesjid Nurul Iman Pannara (di Jl. Antang Raya dekat Songkolo Bagadang), selanjutnya berjalan kaki ke lokasi.

Peta Rumah Kecil dan jalur ke sana

Peta Rumah Kecil dan jalur ke sana (klik untuk perbesar)

rumah kecil 1

Bisa melalui Jl. Pannara di samping Indomaret, seberang Mesjid Nurul Iman Pannara (lihat nomor 1 di peta)

Ketika mencari lokasinya tadi sore, sempat kurang semangat dan sedikit kecewa mengingat lorong-lorong sempit yang kami dilalui. Apalagi sebelumnya sempat melewati kemacetan panjang dan jalan becek sehabis hujan. Untunglah warga yang rumahnya kami lewati di sana sangat ramah. Dan kekecewaan langsung terbayar ketika rumah kecil berwarna merah dengan latar persawahan hijau, terlihat di balik rumah warga. Suasana sepi, hanya ada Intan –istri Haswadi- yang sedang mencuci piring. Kami disambut dengan ramah. Katanya lagi sepi karena habis hujan, biasanya baru ramai lagi kalau malam. Karena sudah sore, kami langsung menuju gazebo di pinggir sawah untuk foto-foto. Terlihat beberapa petani masih sibuk di sawahnya.

rumah kecil 2

Lorong sebelum pertigaaan Jl. Pannara – Jl. Raya Baruga (lihat nomor 2 di peta)

rumah kecil 3

Lorong menuju ke Rumah Kecil. Sepeda motor diparkir di sini. (lihat nomor 3 di peta)

rumah kecil 4

Pintu Masuk Rumah Kecil (lihat nomor 4 di peta)

Tidak lama kemudian Adi Doang datang menyapa kami, bercerita sejarah Rumah Kecil dan mimpi-mimpi besar yang ingin diwujudkan di tempat ini. “Ini baru 40% yang terealisasi” katanya. Karena ide awalnya memang hanya sebagai tempat nongkrong (fungsi refreshing), Rumah Kecil tidak menyediakan banyak varian makanan (fungsi kuliner). Hanya beberapa jenis makanan dan minuman. Ke depannya, di tempat ini juga akan dilengkapi dengan semacam rumah baca (fungsi edukasi) untuk anak-anak yang tinggal di sekitar tempat tersebut. Adi juga bercerita, masih banyak mimpi-mimpi besar lainnya yang akan diwujudkan secara bertahap di tempat ini.

rumah kecil 6

Meja, kursi, gazebo, dengan latar sawah yang menghijau

Saya dan #BabyJo selanjutnya mencoba kolam terapi ikan, sementara bundanya sibuk memotret sana sini. Awalnya memang sangat geli ketika puluhan bahkan ratusan ikan langsung menyerbu menggigiti kulit kaki. Saya pun hanya menurunkan satu kaki saja (kiri) dan harus menahan rasa geli tersebut. Setelah mulai beradaptasi, kaki kanan pun saya turunkan dan mulai menikmati gigitan-gigitan ikan kecil di kedua kaki. Sementara si kecil, #BabyJo langsung mengangkat kakinya ketika ikan mulai menggigit. Nah untuk menikmati fasilitas terapi ikan ini, sebelumnya harus memesan menu Bakso Terapi. Jangan khawatir, harganya cukup terjangkau.

rumah kecil menu

Menunya mungkin biasa saja, namun suasananya yang luar biasa

Setelah numpang sholat maghrib di teras rumah, pengunjung mulai ramai berdatangan. Mereka mulai mengisi kursi-kursi kosong. Gazebo yang kami tempati sepertinya memang tempat favorit di sini, terlihat beberapa pengunjung seperti menunggu kami beranjak. Setelah membayar makanan/minuman kami, kami pulang setelah sebelumnya pamit dengan pemilik tempat.

rumah kecil 8

#BabyJo senang karena bisa lihat burung, ikan, angsa. Apalagi kentang goreng kesukaannya juga enak 😀

Rumah Kecil, tunggu kedatangan kami selanjutnya.

======

Nama: Rumah Kecil

Alamat: Jl. Pannara Lr. 100

Jam Buka: Mulai jam 11 siang ~

Fasilitas: – Kolam ikan terapi, pemandangan dengan nuansa pedesaan (fungsi refreshing);

– Makanan dan minuman (fungsi kuliner)

– Koleksi buku (kedepannya jadi rumah baca – fungsi edukasi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 + 3 =